Hari ini seorang perempuan bisa tertawa lepas dengan
teman-temannya, beraktivitas dengan penuh semangat dan keyakinan. Namun,
selumbari bisa saja ia sedang bersedih, memikirkan hal yang sulit, yang mungkin
tidak mudah untuk dipahami. Begitulah terkadang siklus dari perasaan perempuan,
yang katanya susah ditebak.
Kemarin saya bertemu dengan teman lama, tentu
saja perempuan, Ia mencurahkan isi hatinya pada saya. Lalu tentu saja saya
sebagai teman baiknya mencoba memahami, walau terkadang saya sedikit bingung.
Mengapa bingung? Tentu karena dunia terasa begitu mudah terombang-ambing.
Selumbari ia masih tertawa lepas menceritakan tentang teman barunya di tempat
kerja pada saya. Katanya teman baru ini lucu sekali, humoris, dan tidak
membosankan. Lalu kemarin ia bilang teman baru ini sangat manipulatif. Sungguh
membingungkan, bukan?
Jadi, hari ini, saya harus percaya cerita yang kemarin
atau selumbari saja? Saya hanya mengambil kesimpulan bahwa sikap orang lain
terhadap kita tidak bisa selalu konsisten, tentu ada saja faktornya. Jadi wahai
perempuan, kamu tidak boleh hanya memakai perasaan saja, logika juga penting
dalam menyelami beberapa hal. Kalau memakai perasaan terus, tentu saja akan
banyak goyangan-goyangan pertemanan.
Baik selumbari, kemarin, maupun hari ini, kita harus
menggunakan logika dan perasaan secara seimbang. Logika dibutuhkan untuk
menganalisis, sementara perasaan perlu memunculkan empati dan simpati. Ini juga
yang merupakan dua hal yang dibutuhkan seorang pemimpin perempuan. Semua perempuan
adalah pemimpin, setidaknya memimpin dirinya sendiri.
#writober2025
#writoberIPJakarta2025
#selumbari
#IbuProfesionalJakarta
#IbuProfesional
0 komentar:
Posting Komentar