Selasa, 28 Oktober 2025

Mendobrak Batasan Patriarki

 

Salah satu tokoh perempuan yang sangat saya ingat kiprahnya adalah Raden Ajeng Kartini. Beliau mampu mendobrak batasan patriarki yang sewenang-wenang membatasi peran perempuan di ranah publik. Dahulu perempuan tidak bisa sekolah di luar rumah, namun dengan perjuangan beliau kini perempuan sudah banyak yang bersekolah, baik dari dalam hingga ke luar negeri. Perempuan tidak hanya mengenyam pendidikan menengah saja, bahkan hingga pendidikan terakhir yaitu Doktor bisa ditempuh oleh perempuan. Beliau bahaduri dalam kegelapan.

Selain itu wakil rakyat saat ini sudah diberikan kursi untuk menduduki gedung. Banyak berita yang kita dengar dari gebrakan-gebrakan nyata yang dilakukan perempuan. Sebut saja menuntaskan korupsi secara perlahan. Gebrakan ini tentu saja menimbulkan banyak pergolakan, bahkan mungkin ancaman pada kehidupannya. Namun dengan sifat bahadurinya, ia mampu melawan situsi sulit dalam pekerjaannya.

Kemudian banyak kritik tajam, tekanan dimana-mana, juga harus menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu dan anak. Banyak tuntutan dalam hidupnya, namun semua disikapi dengan gagah berani, bijak mengambil risiko apapun. Inilah bahaduri yang nyata.

Sebagai perempuan yang perasaannya lebih dominan, pengambilan keputusan-keputusan dalam bekerja tidaklah mudah. Kadangkala logika dan perasannya tidak sinkron. Namun bagaimanapun ia berusaha bertindak sigap, nyata, dan profesional. Semoga dalam kepemimpinan perempuan, bahaduri ini menjadi sifat yang dapat diteladani dalam bekerja secara bijaksana.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#bahaduri

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share:

Minggu, 26 Oktober 2025

Perempuan Hebat

 

Di balik seorang pemimpin yang kuat, ada seorang perempuan hebat di sampingnya. Kita bertanya-tanya, siapakah ia? Kali ini bukan berbicara tentang ibu, namun tentang seorang istri yang setia menemani tugas suaminya. Tentunya bukan mengerjakan tugas suami, namun ia siap memberikan motivasi, dukungan, sudut pandang, solusi, teman berdiskusi, dan hal-hal lainnya yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin.

            Istri dari seorang pemimpin yang merupakan prameswari, mampu mengubah otoritas yang kaku menjadi hal yang penuh kelembutan, adanya empati dan simpati, dan membuat kebijakan intuitif. Ia tidak hanya sebagai pendamping pemimpin saja yang siap dibawa kemana saja, namun pemikirannya juga mampu mengubah dunia.
            Bisa kita lihat bagaimana almarhumah Ibu Tien Soeharto sebagai prameswari menjalankan pembangunan-pembangunan yang sampai sekarang masih bisa kita nikmati fasilitasnya seperti Taman Mini Indonesia Indah. Kemudian juga bisa kita lihat bagaimana almarhumah Ibu Ainun Habibie yang selalu sigap mendampingi Bapak Habibie menjalankan tugas kenegaraannya. Bahkan ketika Ibu Ainun wafat, rasa sedih Bapak Habibie begitu dalam. Beliau sampai terapi dengan menulis setiap hari untuk meredam rasa sedihnya. Kedua perempuan yang saya sebutkan adalah perempuan-perempuan prameswari yang namanya akan  selalu dikenang oleh lintas generasi negeri ini.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#prameswari

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share:

Sabtu, 25 Oktober 2025

Budaya Patriarki Masih Lestari

 

Saat ini sudah banyak para pemimpin perempuan yang dengan sigap bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Namun banyak pula masyarakat, baik dari kalangan laki-laki maupun perempuan sendiri yang menganggap peran ini asiri. Budaya patriarki di negeri ini masih begitu kental dan nyata. Hal ini perlu dukungan dari berbagai pihak agar situasi ini tidak dianggap asiri.

Padahal, kerja perempuan sama hebatnya dengan laki-laki, mereka hanya berbeda secara fisik dan fitrahnya. Namun ternyata banyak yang tidak mengakui. Kontribusi perempuan di ranah publik sudah semakin banyak dan gencar. Perempuan mampu mengubah paradigma suatu masalah. Mereka bisa mengerjakan hal-hal kecil hingga besar. Tentu hal ini butuh dukungan dan pengakuan dari berbagai pihak.

Tindakan nyata dan intergitasnya dalam bekerja pun sudah sangat baik, namun sayang sekali sering dianggap asiri. Mereka mampu memberikan hasil-hasil nyata dari berbagai program kerja yang telah dijanjikan. Masyarakat juga percaya dan yakin akan keberhasilan program-program itu. Namun beberapa pihak tetap tidak senang dan meremehkan karena seorang perempuan.

Situasi yang sulit ini tidak mudah untuk padam, butuh waktu, dan pembuktian yang berlanjut. Peran dari masyarakat yang sudah mendukung berpengaruh besar. Pembuktian-pembuktian harus dipampang nyata secara besar-besaran agar menyakinkan kaum yang menganggap asiri.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#asiri

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share:

Kamis, 23 Oktober 2025

Selumbari, Kemarin, atau Hari Ini

 

Hari ini seorang perempuan bisa tertawa lepas dengan teman-temannya, beraktivitas dengan penuh semangat dan keyakinan. Namun, selumbari bisa saja ia sedang bersedih, memikirkan hal yang sulit, yang mungkin tidak mudah untuk dipahami. Begitulah terkadang siklus dari perasaan perempuan, yang katanya susah ditebak.

             Kemarin saya bertemu dengan teman lama, tentu saja perempuan, Ia mencurahkan isi hatinya pada saya. Lalu tentu saja saya sebagai teman baiknya mencoba memahami, walau terkadang saya sedikit bingung. Mengapa bingung? Tentu karena dunia terasa begitu mudah terombang-ambing. Selumbari ia masih tertawa lepas menceritakan tentang teman barunya di tempat kerja pada saya. Katanya teman baru ini lucu sekali, humoris, dan tidak membosankan. Lalu kemarin ia bilang teman baru ini sangat manipulatif. Sungguh membingungkan, bukan?

Jadi, hari ini, saya harus percaya cerita yang kemarin atau selumbari saja? Saya hanya mengambil kesimpulan bahwa sikap orang lain terhadap kita tidak bisa selalu konsisten, tentu ada saja faktornya. Jadi wahai perempuan, kamu tidak boleh hanya memakai perasaan saja, logika juga penting dalam menyelami beberapa hal. Kalau memakai perasaan terus, tentu saja akan banyak goyangan-goyangan pertemanan.

Baik selumbari, kemarin, maupun hari ini, kita harus menggunakan logika dan perasaan secara seimbang. Logika dibutuhkan untuk menganalisis, sementara perasaan perlu memunculkan empati dan simpati. Ini juga yang merupakan dua hal yang dibutuhkan seorang pemimpin perempuan. Semua perempuan adalah pemimpin, setidaknya memimpin dirinya sendiri.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#selumbari

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share:

Rabu, 22 Oktober 2025

Perempuan Hebat yang Memesona

 

Sejak dahulu, perempuan sudah banyak yang menjadi pemimpin. Baik di kalangan para perempuan maupun di kalangan umum. Kiprahnya tidak main-main. Perempuan juga memiliki potensi yang sangat besar dalam menggerakkan jalannya kepemimpinan.

 Banyak pahlawan perempuan yang dengan sigap menuntaskan permasalahan rakyat, seperti Cut Nyak Dien, Cut Meutia, Raden Ajeng Kartini, dan nama-nama perempuan lainnya. Mereka bagaikan batari dengan wajah anggun, tatapan yang meneduhkan, namun tegas dalam bertindak. Siapa yang tak kenal dengan sosok Raden Ajeng Kartini, dengan karyanya Habis Gelap Terbitlah Terang mampu mengubah pandangan masyarakat tentang pendidikan dan perempuan.

Di zaman sekarang ini, mulai banyak peran perempuan di ranah publik yang bergerak begitu gesit dan cekatan. Ia tidak lagi terkungkung dengan rumah yang menjalani hidup dari kasur hingga dapur sepanjang hari. Tentu hal ini muncul sebab adanya seorang batari yang mengawali pergerakan pemikiran. Mungkin saat ini masih banyak hal yang perlu diperjuangkan oleh perempuan. Ada banyak aspek kehidupan yang membutuhkan peran perempuan.

Aku ingin menjadi satu di antara perempuan-perempuan hebat yang memesona bagaikan batari itu, yang bisa mengaktualisasikan kemampuanku di ranah publik. Tentu ini tidak mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Namun aku yakin, niat menjadi salah satu cara untuk bergerak maju. Semoga bangsa ini bisa melahirkan perempuan-perempuan hebat untuk masa depan negeri yang aman dan sejahtera.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#batari

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share:

Selasa, 21 Oktober 2025

Perempuan dan Nalurinya

        Di negeri ini telah banyak pemimpin yang hadir, baik di kancah daerah maupun nasional. Perempuan bukan makhluk yang lemah. Di berbagai aspek, perempuan bisa mengendalikan banyak tantangan dan masalah yang dihadapi. Membahas pemimpin perempuan, tidak terlepas dengan membahas karakter alaminya. Karakter ini berpengaruh pada pengambilan keputusan dan kebijakan.

        Perempuan memiliki naluri yang peka, walaupun bukan seorang ibu, ia memiliki empati yang tinggi, ingin mengayomi, menyayangi, mengasihi dan melindungi rekan kerja. Karakter ini menjadi penguat dalam kepemimpinannya, ia akan berusaha untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, damai, serta tidak terjadi konflik internal maupun eksternal. Lalu dengan karakternya yang memiliki naluri kepekaan seperti firasat, ia lebih mudah mengenali watak rekan kerja, cerdas interpersonalnya, bisa mengidentifikasi sebuah masalah walaupun datanya belum terpampang. Hal ini menjadi nilai lebih dibanding kepemimpinan laki-laki.

       Selain itu naluri untuk mengelola suasana hatinya menjadi penguat dalam kepemimpinan, seperti jika ada suatu masalah, ia akan menghadapinya lebih bijak karena bisa mengendalikan emosi lebih cepat. Ia cerdas secara emosional. Perempuan juga mampu menjalin komunikasi dari hati ke hati sehingga lebih kecil risiko sakit hati jika ada nasihat yang ingin disampaikan kepada rekan kerja.

    Naluri perempuan membuat ia kuat, bukan lemah. Ia peka secara emosional, memiliki firasat dari cerita sebelum adanya data, dapat mengelola atau mengontrol emosi lebih baik, dan memiliki rasa ingin melindungi dan mengayomi dengan penuh kasih sayang semua rekan kerjanya.

#writober2025
#writoberIPJakarta2025
#naluri
#IbuProfesionalJakarta
#IbuProfesional



Share:

Senin, 20 Oktober 2025

Perempuan Tiang Negeri

 

Perempuan tidak hanya bisa mengaktualisasikan diri di rumah, namun di luar rumah bisa berkontribusi untuk negeri ini secara luas. Sudah banyak kita lihat pempimpin negeri yang melakukan banyak perubahan pada sistem di pemerintahan. Sungguh peran yang sangat luar biasa. Tidak semua perempuan bisa melakukannya. Kepemimpinan perempuan membawa sari dalam pengambilan keputusan.

Di wakil rakyat kita lihat bahwa perempuan harus menduduki sekian persen kursi, artinya peran perempuan begitu berarti untuk negeri ini. Pada rapat-rapat yang digelar, perempuan membawa sari dalam pengambilan kebijakan. Perempuan bersuara, tidak hanya diam, mendengarkan, dan bukan pula hanya sebagai pelengkap saja. Namun perannya lebih jauh dari itu.

Ternyata banyak pemimpin negara yang berasal dari kalangan perempuan juga, termasuk negeri ini yang pernah dipimpin oleh perempuan. Perempuan tidak lagi berdiam diri di rumah seperti masa penjajahan dahulu. Perempuan masa kini bisa belajar dan bekerja dimanapun, tentunya tanpa menghilangkan kodratnya sebagai pribadi yang lembut dan perasa. Ia juga adalah seorang ibu dan istri yang memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga rumahnya.

Jika seorang perempuan dapat menyeimbangkan peran-peran di rumah dan publik, tentu pengaruhnya akan sangat besar. Ia mampu membawa sari kehidupan dalam berbagai aspek di negeri ini. Ada pepatah yang menyebutkan bahwa perempuan adalah tiang negeri. Jika perempuan di negeri itu baik, maka baiklah negerinya.

#writober2025

#writoberIPJakarta2025

#sari

#IbuProfesionalJakarta

#IbuProfesional


Share: